Fenomena "Koyo" di Ranu Klakah Lumajang, Jadi Berkah untuk Warga

Home / Berita / Fenomena "Koyo" di Ranu Klakah Lumajang, Jadi Berkah untuk Warga
Fenomena "Koyo" di Ranu Klakah Lumajang, Jadi Berkah untuk Warga Warga menjual hasil ikan di sekitar Ranu Klakah. Fenomena setiap tahun ini mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. (Foto: Qomaruddin Hamdi/TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, LUMAJANG – Ikan mabuk di Ranu Klakah Lumajang ini biasa disebut fenomena Koyo oleh masyarakat sekitar. Fenomena tahunan ini cukup ditunggu oleh masyarakat Lumajang.

Pasalnya, banyak masyarakat yang meraup untung dari fenomena tersebut. Biasanya, masyarakat akan berbondong-bondong datang memungut ikan yang mengapung di Ranu. Kemudian dijual dengan harga terjangkau.

Fenomena koyo ini kerap kali terjadi. Biasanya pertengahan tahun. "Setiap tahun terjadi seperti ini, dan banyak masyarakat yang mencari ikan ketika koyo," kata Solihin salah satu warga sekitar.

fenomena-Koyo-2.jpg

Dia menambahkan, tidak pasti kapan Koyo akan berakhir. Namun, biasanya Koyo terjadi selama sepekan. "Tidak pasti kapannya. Seminggu bisa lebih terus seperti ini," ucapnya.

Sementara itu, Ashari salah satu pemilik keramba ikan di Ranu Klakah merasa dirugikan dengan adanya Koyo tersebut. Pasalnya, ikan budidayanya juga ikut terpengaruh fenomena koyo.

"Tentu rugi. Biasanya dari petani keramba dijual sekitar Rp 30 ribu per kilogram, ketika Koyo ikan kamu jual Rp 20 ribu perkilogramnya," ucapnya.

Kendati demikian, Ashari menyadari bahwa fenomena Koyo mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat. Banyak ikan yang mengapung di permukaan Ranu menjadi buruan warga.

"Meskipun ini musibah bagi para petani keramba, tetapi fenomena Koyo ini ditunggu oleh masyarakat sekitar," ujar pemilik tambak ikan di Ranu Klakah Lumajang. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com