Musim Kemarau 2019, BPBD Jatim: Desa Terdampak Kekeringan Diprediksi Meningkat

Home / Berita / Musim Kemarau 2019, BPBD Jatim: Desa Terdampak Kekeringan Diprediksi Meningkat
Musim Kemarau 2019, BPBD Jatim: Desa Terdampak Kekeringan Diprediksi Meningkat Akun resmi Instagram BPDB Provinsi Jatim (FOTo:Instagram BPBD Jatim)

TIMESJATIM, SUARABAYA – Pada musim kemarau 2019, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) memetakan 822 desa yang berpotensi terdampak kekeringan.

Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 725 desa terdampak.

Berdasarkan data yang dibagikan akun resmi Instagram BPBD Jatim pada Selasa (25/6/2019)dini hari, desa yang diprediksi mengalami kekeringan terbagi menjadi tiga kelompok. Yakni desa kering kritis 566 desa, kering langka 236 desa, dan kering langka terbatas 20 desa.

Kekeringan-2.jpg

Dibandingkan tahun 2018, terjadi peningkatan di tige kelompok tersebut. Kelompok desa kering kritis sebanyak 538, kering langka 176 desa, dan kering terbatas sembilan desa. 

Pada unggahan itu juga disebutkan, meningkatnya kekeringan disebabkan datangnya kemarau lebih awal akibat peningkatan suhu di Khatulistiwa. 

Adapun pengelompokan kekeringan yang dilakukan BPPD Jatim itu didasarkan atas dampak sosial ekonomi. Pertama kategori kering kritis, yaitu persediaan air masyarakat kurang dari 10 liter per orang per hari. Dengan jarak pemukiman ke sumber mata air lebih dari tiga kilometer. 

Kedua kering langka, dimana persediaan air penduduk 10-30 liter per orang per hari. Dengan jarak tempuh mengambil air 500 meter sampai tiga kilometer. Ketiga, kering terbatas, persediaan air per orang per hari hanya 30-60 liter. Dengan jarak mengambil air paling jauh 500 meter dari rumah. 

Kepala BPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono mengaku telah melakukan langkah antisipasi menghadapi kekeringan tahun ini. 

"Pertama Provinsi Jatim dalam hal ini BPBD, mengundang BPBD kabupaten/kota, rapat kordinasi untuk memetakan kira-kira berapa desa yang butuh kebutuhan dasar air bersih," tutur Suban. 

Hasil pemetaan dari 566 desa yang masuk kategori kritis, 199 desa diantaranya tidak ada potensi airnya. "Artinya dibor tidak bisa keluar airnya. Sumber airnya jauh. Ini tidak ada potensi airnya," ungkapnya. 

Untuk desa-desa yang kesulitan air ini, Pemprov Jawa Timur telah mengeluarkan surat edaran gubernur agar pemerintah kabupaten/kota siap siaga darurat siaga kebencanaan 2019. 

Atas imbauan itu, BPBD Jatim menyiapkan langkah antisipasi dengan menyuplai kebutuhan air bersih ke desa yang terdampak kekeringan di musim kemarau 2019. Suban menyebutkan, Pemprov siap membagikan air bersih ke kabupaten/kota yang meminta suplai air bersih (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com