Tombak Dwi Sula, Bagian Sejarah Pondok Pesantren Nurul Huda di Kabupaten Blitar

Home / Berita / Tombak Dwi Sula, Bagian Sejarah Pondok Pesantren Nurul Huda di Kabupaten Blitar
Tombak Dwi Sula, Bagian Sejarah Pondok Pesantren Nurul Huda di Kabupaten Blitar Muhammad Kirom saat menggunakan Tombak Dwi Sula sebagai Tongkat Khutbah Sholat Jumat di masjid Pondok Pesantren Nurul Huda, Jumat (13/9/2019).(Foto: Sholeh/ TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, BLITARPondok Pesantren Nurul Huda di Desa Kuningan Kecamatan Kanigoro merupakan Pondok Pesantren tertua dan bersejarah di Kabupaten Blitar. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih tersimpan adalah Tombak Dwi Sula, tombak dengan dua mata tombak.

Tombak tersebut diberikan oleh Keraton Jogjakarta kepada Syaikh Abu Hasan selaku pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda.

Menurut  Muhammad Kirom, generasi keturunan keempat Syaikh Abu Hasan, tombak tersebut merupakan sebuah isyarat bahwa beliau merupakan penghulu yang taat, bermartabat, hebat dan kuat.

"Saat ini, setiap Jumat kita pergunakan sebagai tongkat khotbah Shalat Jumat," katanya kepada TIMES Indonesia usai shalat Jumat di masjid Pondok Pesantren Nurul Huda, Jumat (13/9/2019).

Tombak itu adalah bentuk komando titah dakwah menyebarkan agama Islam serta mempersiapkan misi jihad fi sabilillah di Berang Wetan (Jawa sebelah timur) untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah Jawa dari tangan penjajah Belanda. 

Saat dipakai untuk khotbah shalat Jumat, mata Tombak Dwi Sula ditutup selongsong terbuat dari kayu.

"Yang pertama kali mengemban Tombak Dwi Sula adalah Mbah Abu Hasan, turun ke Mbah Haji Usman, turun ke Mbah Kholil, turun ke pak Jupri sampai sekarang," urainya.

Dikisahkan Muhammad Kirom, sejak dahulu Syaikh Abu Hasan menggunakan tombak itu untuk khotbah. Tombak itu sejatinya, bukanlah untuk berperang namun untuk memberikan komando ketika perang terjadi waktu itu. Juga sebagai isyarat bahwa pemilik tombak bukan orang sembarangan.

"Jika terkena, lukanya akan sangat lama sembuh meskipun sedikit, maka harus berhati hati saat membukanya," katanya sambil membuka selongsong untuk diperlihatkan kepada TIMES Indonesia.

Selain Tombak Dwi Sula, di Pondok Pesantren Nurul Huda juga ada tinggalan bersejarah lainnya yaitu bangunan pondok berupa joglo dan dua rumah. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com