Ritual Tolak Balak, DKS-PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa Akhir Tahun

Home / Berita / Ritual Tolak Balak, DKS-PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa Akhir Tahun
Ritual Tolak Balak, DKS-PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa Akhir Tahun Ketua Umum DKS Chrisman Hadi. (Foto: Istimewa)

TIMESJATIM, SURABAYA – Dewan Kesenian Surabaya (DKS) bekerja sama dengan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggelar acara Festival Sastra Jawa

Festival digelar di Sekretariat DKS, Gedung Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya pada Jumat, 27 Desember 2019 mendatang.

Ketua Umum DKS Chrisman Hadi menerangkan, Festival Sastra Jawa bakal menampilkan 5 pengarang sastra Jawa. Mereka satu per satu akan tampil membawakan karyanya dalam format pertunjukan. 

"Tiap pengarang boleh membawa kru untuk menunjang penampilan," kata Chrisman, Rabu (4/12/2019).

Acara ini adalah bagian dari program Majelis Sastra Urban DKS yang biasa digelar sebulan sekali. Komite Sastra DKS tiap bulan melaksanakan diskusi ataupun pertunjukan sastra. Biasanya di Galeri DKS. Namun kali ini acara di Sekretariat DKS karena memakai perlengkapan gamelan. 

"Apalagi, ruang sekretariat memang lebih luas," tambahnya.

Salah satu Tim Kreatif Majelis Sastra Urban, Rizki Amir, menuturkan bahwa festival tidak hanya berisi pertunjukan sastra Jawa. 

Ada pertunjukan musik gamelan dari anak-anak usia sekolah dasar. Mereka hampir tiap hari latihan di DKS. 

"Nah, kali ini, mereka kita tampilkan," kata lulusan Sastra Indonesia Unesa yang biasa disapa Kimpul itu.

Kimpul menambahkan, festival dibuka dengan musik gamelan. Setelah itu, pertunjukan 5 pengarang sastra Jawa. Lantas dilanjutkan dengan diskusi. Karena memakai nama festival, yang artinya pesta, acara tidak sekadar di dalam ruangan. 

Ada bazaar buku dari para pengarang sastra Jawa, ada performance art dari Mahdi Betjak, juga musik berbahasa Jawa dari Edy Jenggot Poss.

Sebuah tujuan filosofis disorongkan Kimpul terkait festival ini. Harapannya, sajian sastra Jawa akhir tahun ini bisa menjadi semacam ritual tolak balak. Ritual penghapus malapetaka. 

"Semoga kita bisa melangkah ke tahun 2020 nanti dengan mendapat kemudahan dari Gusti Allah," papar penyair yang saat ini menggeluti tema-tema wayang tersebut.

Kimpul berharap, kegiatan sastra Jawa kembali semarak di Surabaya, khususnya di Balai Pemuda. Dulu pada tahun 1970-an, Balai Pemuda kerap mengadakan pergelaran sastra Jawa. Misalnya semaan, pembacaan gurit, maupun ludruk. 

"Nah harapannya, tahun depan, DKS bisa memfasilitasi kegiatan rutin khusus sastra Jawa. Selama ini kan baru sastra Indonesia yang mendapat perhatian dari Komite Sastra," katanya acara Festival Sastra Jawa yang digelar oleh Dewan Kesenian Surabaya (DKS) bekerja sama dengan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com