Batan Berhasil Perbaiki Kualitas Varietas Padi Rojolele

Home / Ekonomi / Batan Berhasil Perbaiki Kualitas Varietas Padi Rojolele
Batan Berhasil Perbaiki Kualitas Varietas Padi Rojolele BATAN saat panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, YOGYAKARTA – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) berhasil memperbaiki varietas padi Rojolele yang terkenal dan disukai masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Keberhasilan ini diwujudkan dengan panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019).

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat mengatakan, keberhasilan ini merupakan komitmen Batan dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, khususnya di bidang pertanian.

Selain itu, keberhasilan ini dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya untuk senjata dan energi saja, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang.

"Hasil perbaikan varietas padi lokal Rojolele ini merupakan suatu bukti komitmen BATAN dalam memanfaatkan teknik nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, BATAN juga membuktikan bahwa teknologi nuklir bukan hanya dikenal sebagai pemusnah massal dan juga hanya energi nuklir, yang hingga saat ini banyak masyarakat yang mempunyai prersepsi negatif pada energi nuklir, namun teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang lain, seperti pangan," kata Totti.

Sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir, Totti menegaskan, Batan mempunyai peran penting di bidang pertanian yakni dalam menghasilkan varietas unggul dengan memanfaatkan teknologi nuklir.

Meskipun banyak varietas padi lain, namun varietas padi mutan Batan diharapkan menjadi varietas unggul dan disukai oleh masyarakat, dan dapat mendukung program ketahanan pangan nasional.

Ia berharap, melalui kedua varietas ini, produksi padi di Kabupaten Klaten meningkat. "Varietas padi mutan Rojolele (Srinar & Srinuk) diharapkan dapat lebih mendukung produksi padi Kabupaten Klaten, yang tentunya diharapkan memberikan dampak terhadap produksi padi Jawa Tengah.

Dengan sendirinya, pendapatan daerah Kabupaten Klaten diharapkan lebih meningkat, perekonomian menjadi lebih baik dan memberikan dampak ke wilayah di luar Kabupaten Klaten hingga nasional," harapTotti.

Peneliti Batan, Sobrizal menceritakan penelitian terhadap varietas Rojolele ini dimulai sejak tahun 2013. Masyarakat Klaten meminta agar Batan dapat memperbaiki varietas Rojolele yang sangat disukai oleh masyarakat.

"Penelitian ini berawal ketika beberapa orang personel Pemerintah Kabupaten Klaten dan anggota DPRD berkunjung ke PAIR pada awal 2013," kata Sobrizal.

Setelah dilakukan perbaikan terhadap varietas Rojolele dengan radiasi sinar gamma pada dosis 200 Gy, menurut Sobrizal, dihasilkan varietas baru yakni Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar yang lebih unggul. Keunggulan kedua varietas ini dibandingkan dengan induknya antara lain mempunyai umur lebih pendek yakni kurang dari 120 hari sedangkan umur induknya mencapai 155 hari.

"Tinggi tanaman sekitar 105 cm sehingga tidak mudah rebah, sedangkan induknya 155 cm yg selalu rebah sebelum panen karena terlalu tinggi," tambahnya.

Sobrizal mengaku, kedua varietas ini mempunyai ketahanan hama penyakit lebih baik dan produksinya lebih tinggi mencapai 9 ton/ha bila dibandingkan dengan induknya yang hanya mencapai 7 ton/ha. Selain itu, mutu fisik beras dan mutu organoleptik (rasa nasi, aroma dll) setidaknya sama dan bahkan cendrung lebih baik dibandingkan induknya.

Kedua varietas ini sudah lolos pada sidang pelepasan varietas pada akhir Juni 2019, saat ini sedang menunggu Surat Keputusan Pelepasan dari Menteri Pertanian.

"Harapannya kedua varietas (Rojolele) ini bisa ditanam masyarakat tani di Klaten secara luas dengan produksi dan kualitas beras tinggi, karena berasnya bagus bisa dijual lebih mahal, dan akan dapat meningkatkan penghasilan/kesejahteraan petani," harap peneliti Batan ini. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com