Membaca Peta Politik Pilkada, Pasca Mundurnya Ketua PDIP Kabupaten Kediri

Home / Kopi TIMES / Membaca Peta Politik Pilkada, Pasca Mundurnya Ketua PDIP Kabupaten Kediri
Membaca Peta Politik Pilkada, Pasca Mundurnya Ketua PDIP Kabupaten Kediri Dito Arief N. S.AP, M.AP, Peneliti SIGI LSI Denny J.A

TIMESJATIM, KEDIRI – Di penghujung tahun 2019, dinamika politik jelang Pilkada Kabupaten Kediri 2020 di Kabupaten Kediri dikejutkan dengan kabar mundurnya Ir. Sutrisno, MM sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Kediri, yang telah dijabat selama 3 periode oleh mantan Bupati Kediri 2 periode tersebut.

Meskipun sempat dibantah namun alasan pilihan rekomendasi dari DPP PDIP yang kemungkinan besar tidak sejalan dengan pilihan Sutrisno yang menjadi aroma sebab pengunduran diri sebagai Ketua Partai Pemenang Pemilu 2019 kemarin di Kabupaten Kediri tersebut.

Dibawah kepemimpinan Sutrisno, kursi PDIP di DPRD Kabupaten Kediri bertambah dari 12 menjadi 15 Kursi, dan menjadi satu-satu nya Partai Politik yang mampu untuk mengusung calon sendiri dalam Pilkada Kabupaten Kediri tahun 2020.

Secara terbuka Sutrisno telah menyatakan dukungannya kepada duet Mujahid – Eko Ediono yang merupakan Kepala Bakesbangpol dan Sekretaris Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3) Kabupaten Kediri, yang notabene merupakan orang kepercayaan Dinasti Politik Sutrisno.

Duet Mujahid – Eko Ediono ini memupus prediksi banyak pihak bahwa Dinasti Politik Sutrisno akan diteruskan oleh Eggy Adityawan atau Rahmadi Yogi yang merupakan anak kandung dan anak mantu pasangan Sutrisno – Haryanti yang telah memimpin Kabupaten Kediri selama 20 tahun.

Pasangan Mujahid – Eko Ediyono ini juga telah mendaftar melalui DPC PDIP Kabupaten Kediri, bersama dengan sejumlah nama yang lain. Selain di PDIP pasangan ini juga telah mendaftar di sejumlah partai yang lain, termasuk mempersiapkan opsi maju melalui jalur perseorangan.

Dinamika Politik Kediri hari ini yang memperlihatkan antusiasme politik yang tinggi dengan bermunculan banyak figur-figur baru dalam peta politik Kabupaten Kediri sungguh kontras dengan suasana politik di Pilkada tahun 2015.

Di tahun 2015, Pasangan Haryanti Sutrisno – Masykuri yang diusung oleh Koalisi Besar bahkan kesulitan menemukan lawan tanding, hingga munculnya pasangan Ari Purnomo – Arifin Tafsir yang diusung PAN dan Gerindra pun banyak dituding sebagai calon boneka untuk menghindari calon tunggal dalam Pilkada Kediri tahun 2015.

Munculnya sejumlah nama seperti Wabup incumbent Masykuri Ikhsan, putra Seskab Pramono Anung yaitu Hanindhito Himawan Pramana, Wakil Direktur Gudang Garam Slamet Budiono, Ketua KADIN Yekti Murih Wiyati, dokter Sukma Sahadewa, pengusaha H. Ridwan, Insaf Budi Wibowo, hingga Kepala Desa Tarokan Supadi menunjukan geliat Pilkada Kabupaten Kediri tahun ini lebih hidup dari Pilkada 5 tahun silam.

Dari jalur perseorangan bahkan sudah 3 pasangan bakal calon yang mendaftar ke KPU Kabupaten Kediri, terlepas dari akan lolos tidaknya ketiga bakal calon tersebut dalam verifikasi KPU yang mensyaratkan dukungan minimal sebesar 79.715 KTP yang tersebar di 50% jumlah Kecamatan, namun kehadiran mereka menunjukan antusiasme yang besar terhadap perhelatan Pilkada di Kabupaten Kediri kali ini.

Sebagai satu-satunya Partai yang bisa mengusung pasangan calon sendiri sejatinya PDIP gamang dalam menghadapi Pilkada Kediri 2020, ketergantungan terhadap Sutrisno selama 20 tahun belakangan dan hegemoni dinasti politik keluarga Sutrisno menyulitkan PDIP dalam mempersiapkan kader-kader internal yang mampu secara mandiri untuk tampil dalam Pilkada Kabupaten Kediri tahun ini.

Munculnya Hanindhito Himawan Pramana, putra dari Tokoh DPP PDIP Pramono Anung masih terlalu prematur untuk dipaksakan tampil menjadi Kediri 1 tahun ini, apalagi bila harus menghadapi calon utusan Dinasti Sutrisno.

Politisi Milenial tersebut belum cukup kuat secara popularitas dan elektoral bila harus berhadapan dengan jago Dinasti Sutrisno yang telah berada dalam lingkaran kekuasaan selama 20 tahun belakangan, sehingga menurut penulis PDIP butuh figur lain yang memiliki efek WOW untuk bisa benar-benar mandiri melepaskan ketergantungan bahkan untuk benar-benar melawan jagoan dari Dinasti Sutrisno kali ini yaitu Mujahid – Eko Ediono.

Fenomena yang juga menarik adalah sulitnya Wakil Bupati incumbent 2 periode, Drs. H. Masykuri Ikhsan, MM untuk mendapatkan rekomendasi dari Partai-partai yang ada, bahkan dari PKB dan PDIP sekalipun yang secara kultural dan personal memiliki kedekatan.  

Meskipun telah menjabat selama 2 periode mendampingi Bupati Haryanti Sutrisno, nyatanya Wabup Masykuri tidak cukup berhasil dalam meningkatkan kekuatan elektoralnya selama 10 tahun ini, yang menurut penulis telah diprediksi sekaligus bagian dari desain politik Sutrisno selaku King Maker Politik Kabupaten Kediri selama ini.

Secara alamiah, incumbent apalagi yang sudah 2 periode menjabat akan menjadi magnet bagi Partai Politik untuk mendekat dan mengusungnya sebagai calon Bupati di periode berikutnya, namun hal tersebut nampaknya tidak terjadi di Kabupaten Kediri.

Artinya kekuatan elektoral, kekuatan logistik dan modal sosial lebih menjadi pertimbangan Parpol untuk memberikan rekomendasinya kepada calon yang akan diusung daripada hanya sekedar status sebagai Wabup incumbent.

Tujuh bulan menjelang Pilkada, sepertinya akan banyak kejutan yang muncul menjelang pendaftaran calon bupati dan wakil Bupati Kediri. Kabupaten dengan APBD sebesar 2,690 Triliun yang saat ini telah memiliki Bandara sendiri, secara ekonomi dan politik tentu akan menjadi perhatian Partai Politik di tingkat pusat dan menjadi kepentingan nasional.

Dengan DPT sebesar 1,2 juta pemilih yang tersebar di 26 Kecamatan maka menarik ditunggu geliat Partai Politik dan Dinasti Politik Kabupaten Kediri dalam menyongsong Pilkada langsung serentak edisi keempat ini.

Dengan peta politik yang tersaji hari ini, pilihan pragmatis yang bisa diambil PDIP menurut penulis adalah mengusung calon yang didukung Dinasti Politik Sutrisno yaitu Mujahid – Eko Ediono, atau pilihan ideologis jangka panjang yaitu mengusung pasangan mandiri untuk berhadapan dengan Mujahid – Eko Ediono atau pasangan yang diusung Koalisi Parpol lain. 

Sosok Hanindhito sebagai politisi milenial PDIP, dalam analisa penulis cukup ideal saat ini menjadi AG 2 (Calon Wakil Bupati) berpasangan dengan Calon Bupati yang menjadi anti thesis dari kepemimpinan Kediri selama 20 tahun terakhir, yang matang secara usia, kuat secara jejaring, siap secara logistik namun memiliki personality out of the box yang akan memberikan WOW Effect secara elektoral untuk memenangkan Pilkada Kabupaten Kediri 2020 sekaligus mengakhiri ketergantungan terhadap hegemoni Dinasti Politik.

***

* Penulis Dito Arief N. S.AP, M.AP, Peneliti SIGI LSI Denny J.A

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com