Diberlakukannya New Normal, Menggugah Para Pemangku Pesantren

Home / Kopi TIMES / Diberlakukannya New Normal, Menggugah Para Pemangku Pesantren
Diberlakukannya New Normal, Menggugah Para Pemangku Pesantren M. Luqman Hakim, S.HI, M.Pd.I, Wakil Ketua Yayasan Miftahul Ulum Al-Yasini Pasuruan Jatim. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, PASURUANPesantren adalah lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perorangan, yayasan,organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil’alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melaluli pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Data mencatat terdapat 28.194 pesantren di negeri ini, santri yang mukim sebanyak 5 juta jiwa, jumlah total santri mukim dan non mukim 18 juta jiwa. Jumlah pengajar diperkirakan sekitar 1,5 jiwa. (Data mutakhir Kemenag dalam Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa dan Madura di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur pada Jumat (14/2/2020).

Dengan mempertimbangkan protokol santri normal baru yang dikeluarkan oleh Kementrian Agama di Jakarta, Rabu lalu (27/5). Sementara, ketua PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menyebutkan, "Jika pemerintah memberlakukan new normal tanpa menghitung keberadaan pesantren, maka sama saja pemerintah ingin membunuh pesantren". Ujaran itu beliau utarakan dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu (27/5/2020). maka dalam hal ini, para pemangku pesantren jga harus punya strategi dalam menghadapi kembalian santri yang pada kebiasaan mereka setelah pulangan liburan, dan dalam menyikapi New Normal di pesantren.

Kondisi Pesantren

Hemat saya, pemerintah memang seharusnya mengkaji lebih dalam lagi dalam memberlakukannya new normal khususnya di pesantren, jika wabah Covid-19 bisa dipastikan belum menurun dan apalagi obatnya belum ada. Sementara kondisi pesantren yang berjumlah ribuan di Indonesia, tentu mengalami perbedaan, baik dalam hal santri yang berjumlah besar atau sebaliknya, maupun hal sarana prasarana. Maka, kami juga setuju dengan tawaran pengurus pusat Rabithah Ma’ahid Islmaiyah yang telah mengeluarkan surat edaran, (22/5/2020) pekan lalu dalam catatan kesimpulan akhirnya, bahwa : "New normal akan diberlakukan bergelombang pada titik pesantren yang menurut RMI layak untuk dijadikan pilot project dan disertifikasi oleh PP RMI mulai tahun ajaran baru 2020/2021".

Mengkaji kondisi pesantren banyak hal yang harus diperhatikan, jika memang berlaku new normal di tengah-tengah wabah Covid-19 ini, di antaranya;

  • Pihak pesantren harus menetapkan SOP (standar operasional prosedur) khusus disaat santri kembali , mulai dari protokoler kesehatan, alat rapid test, penyediaan cuci tangan dan lain-lain.
  • Pihak pesantren harus melihat kelayakan tempat mulai dari luas kecil ruangan sampai pada kebersihan ruangan
  • Pihak pesantren harus memastikan santri atau wali santri dalam keadaan sehat
  • Pihak pesantren harus menyiapkan tempat karantina disaat itu jika diperlukan
  • Pihak pesantren bekerjasama dengan tenaga medis puskesmas atau klinik kesehatan terdekat 
  • Pihak pesantren juga harus memikirkan, bagi santri atau wali santri yang sedang terdampak wabah covid ini, misal segi perekonomian mereka menurun dan lain-lain.
  • Dan pihak pesantren juga harus memikirkan kehidupan santri baik dalam hal makanan, kegiatan belajar, tempat beribadah dan istirahat sebagaiman tidak biasa mereka lakukan.

Harapan pesantren ke depan

Semoga wabah ini segera berakhir, mengingat mayoritas santri sudah berkeinginan untuk menimbal ilmu lagi di pesantren secara normal, termasuk juga para tenaga pengajarnya. Lebih-lebih orang tua, melihat kondisi saat ini, mereka sangat menghawatirkan putra putrinya disaat libur berkepanjangan tanpa ada kepastian. Justru mereka jenuh melihat aktifitas harian mereka. Semoga semua anak bangsa, generasi penerus ulama di negeri tercinta ini, senantiasa diberi Maunah dan Ridlo dari Allah SWT. Amiin. (*)

***

*)Oleh: M. Luqman Hakim, S.HI, M.Pd.I, Wakil Ketua Yayasan Miftahul Ulum Al-Yasini Pasuruan Jatim / Staf pengajar Bahasa Arab di MTs. Al-Yasini Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini Pasuruan Jatim / Ketua ISNU PAC Wonorejo Kab. Pasuruan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com