Disdikbud Balikpapan Minta Guru Tidak Memberikan Tugas yang Memberatkan Siswa

Home / Pendidikan / Disdikbud Balikpapan Minta Guru Tidak Memberikan Tugas yang Memberatkan Siswa
Disdikbud Balikpapan Minta Guru Tidak Memberikan Tugas yang Memberatkan Siswa Tari, salah satu wali murid saat membantu anak-anaknya menyelesaikan tugas sekolah (FOTO: Istimewa)
Fokus Berita

TIMESJATIM, BALIKPAPAN – Pemerintah melalui kemendikbud menginstruksikan kegiatan belajar secara mandiri di rumah agar terhindar dari pandemi virus Corona (Covid-19). Seperti daerah lainnya, Disdikbud Kota Balikpapan juga memberlakukan belajar di rumah secara daring atau lebih dikenal dimasyarakat dengan istilah belajar online.

Tidak sedikit orang tua kewalahan menghadapi keadaan ini. Anak-anak lebih senang bermain daripada belajar. Guru memberikan tugas bertubi-tubi tanpa pendampingan. Sarana dan prasarana serta aksesabiltas yang tidak sama. Sehingga kegiatan belajar jarak jauh ini dianggap beban oleh orang tua.

Tari, ibu dari siswa kelas 6 SD salah satu sekolah di Balikpapan Utara mengungkapkan dirinya sudah berusaha maksimal mendampingi anaknya dalam belajar. Namun dia masih kebingungan dan banyak tidak mengerti dengan tugas pelajaran yang diberikan.

“Corona ini membuat saya harus jadi guru dadakan untuk anak saya dan harus serba bisa. Apalagi awal liburan lalu terasa berat karena tugasnya serba dadakan dan dikumpulkan tanpa diberi tenggat waktu. Tapi untung sekarang sekolah sudah menggunakan aplikasi pembelajaran jadi saya tidak sestres kemarin” ujarnya kepada Balikpapan TIMES, Sabtu (4/04/2020).

Kadisdikbud Balikpapan, Muhaimin ketika dihubungi oleh Balikpapan TIMES mengaku sudah membuat surat edaran nomer 420/1842/SKT/III/2020, surat tersebut meminta guru agar tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa dalam melaksanakan proses belajar mandiri di rumah.

“Pemberian tugas mandiri ini jangan membebani peserta didik dan harus mempertimbangkan kemampuan orang tua, materi yang diberikanpun harus lebih menekankan pada pendidikan kecakapan hidup seperti bagaimana siswa diajarkan perilaku hidup bersih dan sehat ditengah wabah covid-19 ini," ujarnya.

Dijelaskannya, pihak sekolah diminta untuk kreatif membuat tutorial atau mentoring yang mudah difahami siswa. Dirinya pun meminta pihak guru memantau jika ada orangtua siswa yang tidak memiliki alat komunikasi agar dapat berkoordinasi dengan komite kelas sehingga kegiatan belajar mandiri berjalan dengan baik.

"Guru harus kreatif dan inovatif membuat video sederhana pembelajaran yang mudah difahami siswa. Bahkan bagi siswa yang tidak punya media atau alat komunikasipun bisa berkoordinasi dengan komite kelas agar kegiatan belajar mandiri dirumah bisa berjalan dengan baik," harapnya.

Sementara itu Novi Candra, dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada dan co founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang dihubungi oleh Balikpapan TIMES, Sabtu(04/04/2020) mengomentari fenomena ini.

“Orang tua yang tidak biasa mendampingi dan menggunakan platform teknologi dalam belajar akan kerepotan ketika sekolah memberikan tugas bertubi-tubi dan guru mengejar capaian materi pelajaran saja," ujarnya.

Novi juga mengatakan, seharusnya guru dan orang tua menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang positif serta disesuaikan dengan kedinamisan belajar dan peka terhadap kemajuan teknologi.

"Membangun keterampilan hidup, empati, dan kepekaan sehingga muncul pembelajaran yang bersifat kontekstual dan relevan dengan keadaan sekarang," ujar Novi menanggapi sistem belajar online yang sudah diterapkan saat pandemi Covid-19. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com